Pages

Label

Selasa, 27 Desember 2011

The Tolikara to Remember

Apakah pernah ada yang mendengar Tolikara? bukan, bukan sejenis makanan tertentu, tapi Tolikara adalah nama ibukota kabupaten baru di pegunungan tengah-tengah Papua yang terisolir. Dan yang lebih mengejutkan lagi, 3 orang anak SMU dari Tolikara berhasil merebut 3 perunggu Indonesia dalam Olimpiade Astronomi Asia Pasific (APAO), koq bisa? gak ngerti, sampe sekarang aja g masih mengira ini cerita fiksi???


Awal mulanya begini: 
Prof. Yohanes Surya punya ide gila untuk "membangun Indonesia". Bukan dalam artian Fisik, namun setidaknya mengangkat Image Indonesia di dunia International. Caranya, dengan menyelenggarakan Olimpiade Astronomi se-Asia Pasific . Tempatnya bukan di Jakarta atau kota besar lainnya, tapi di Tolikara, di tengah-tengah pegunungan Papua. Kota itu hanya dapat di capai dengan naik pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena, disambung off road selama 4 jam (gile kebayang aje). Penduduk di sana, kaum laki-laki tanpa celana, dan perempuan tanpa penutup dada ditemukan di mana-mana.

Ide gila Prof Yohanes Surya, pendiri Surya Institute dan salah satu aktivis olimpiade science dunia, yang telah sukses mempromosikan banyak anak Indonesia  ke ajang olimpiade science dunia. Dia memprakarsai dilaksanakannya Olimpiade Astronomi Asia-Pasific (APAO) di Indonesia.
Program ini di tawarkan ke berbagai Pemda, tapi gak ada yang tertarik. Hingga suatu hari...Yohanes Surya bertemu dengan seorang "gila" lainnya yang bernama John Tabo, Bupati Tolikara yang asli Papua. Tanpa di duga, Tabo bersedia menjadi sponsor pelaksanaan APAO di Indonesia. Selain menjadi tuan rumah, dia mendanai seluruh biaya persiapan tim Olimpiade Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Papua, selama 1 tahun.

John Tabo membangun tempat khusus (hotel) untuk menjadi venue olimpiade ini. Dikumpulkan lah 15 anak Indonesia sejak Februari 2010 di karawaci. Delapan dari 15 anak itu, direkrut dari SMP/SMU Tolikara yang semuanya memiliki kemampuan matematika sangat rendah. Untuk menyelesaikan soal matematika anak kelas 4 SD saja tidak mampu. Bahkan ada yang namanya Eko, ketika di tanya 1/5 + 1/2, langsung menjawab 1/7!
ke 15 anak ini di latih oleh pelatih-pelatih "gila", yang tidak bosan dan kesal melatih anak-anak ini. Dalam 10 bulan ke-8 anak Tolikara ini mampu mengerjakan problem matematika yang paling sulit yang di ajarkan pada tingkat terakhir SMU dan tingkat awal Universitas. Saat Olimpiade berlangsung, hasilnya pelajar-pelajar Indonesia ini menduduki urutan ke-2 dari 9 negara. Korea selatan di urutan pertama, Indonesia diatas China, Rusia, Kazakshtan, Nepal, Cambodia, dan Bangladesh. Mengejutkan lagi, 3 perunggu Indonesia disumbangkan oleh pelajar Tolikara!!

Apa maksud dari semua ini? bagaimana mungkin seorang dari yang bodoh, yang mengerjakan soal anak kelas 4 SD tidak mampu, tapi kemudian hanya dalam 10 bulan mampu membawa Indonesia menjadi urutan ke 2 Olimpiade? Kita yang pernah SMU juga tau, ngerjain soal Olimpiade gak beda jauh sama main kartu, menghabiskan banyak waktu tapi gak ada hasil apa-apa.. Kita memang tau bahwa segala sesuatu dapat di ajarkan, tapi kita juga di ajarkan bahwa untuk mencapai tingkat excelent dalam suatu bidang, kita perlu punya passion pada bidang tersebut, lalu apakah ke 8 anak Tolihara ini punya passion di Astronomi/ Matematika? (penulis gak tw sih isi Olimpiade Astronomi seperti apa?), tapi asumsi ini juga lemah, lebih yakin passion mereka main bola atau hal lain, yang pasti bukan matematika!

Apapun caranya, gimanapun caranya, hal ini membuktikan 1 hal (bila cerita ini bukan fiksi), bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama bila diberikan suatu kesempatan, bahkan dengan suatu cara tertentu (hanya om Yohanes Surya cs yang tau) setiap orang dapat merubah sesuatu menjadi emas (The Alchemist - Paulo Cuelho). Semoga pemerintah Indonesia, bapak SBY mendengar cerita ini dan mw menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan dan semua orang berhak maju equally.

Cerita mengenai Tolikara & Prof Yohanes Surya di contek penulis dari resensi buku "places" oleh Aruman dari majalah MIX, semoga yang menulis tidak berkeberatan ^_^ 

sumber: 
http://martinfai.blogspot.com/

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.